= ULAMA DAN PENGUASA =


Beberapa sahabat fesbuker bertanya sekaligus meminta pendapat tentang hubungan antara ulama dan umaro (penguasa), dan lebih khusus lagi mengenai pernyataan serta kedatangan sejumlah pemuka agama/ulama ke Istana Negara hari Senin, 17 Januari yang lalu. Saya tidak ingin menjawab secara langsung, tapi saya kutipkan saja pandangan guru besar kita Al Ghazali tentang hal tersebut. Pandangan Al Ghazali ini banyak dibahas dalam kitabnya yang sangat termasyhur, dan saya yakin sudah dihafal di luar kepala oleh para ulama kita, yaitu kitab: “ Nasihat Bagi Penguasa”.

Al Ghazali membagi ulama dalam tiga golongan:
1.Ulama Hujjah, yaitu ahli ilmu agama yang mengutamakan perintah Tuhan, dan bekerja menurut jalan yang benar.
2. Ulama Hajjaj, yaitu ahli ilmu agama yang berjuang menegakkan agama Tuhan, berdiri di baris terdepan memimpin umat mempertahankan politik keadilan, bagaikan bintang terang yang menyinari jalan dan memimpin perjuangan.
3. Ulama Mahjuj, yaitu ulama yang menghambakan diri pada duniawi, menjadi budak kaum penguasa yang menjalankan politik kezaliman.

Para pemikir Islam klasik jauh-jauh hari sudah menyadari dan mengingatkan, bahwa ulama yang paling buruk adalah ulama yang datang ke penguasa, kecuali untuk memperingatkan dan menegur Sang Penguasa. Oleh karena itu pula pada hematnya, ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan, Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri pada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik kekuasaan.

Peranan kepemimpinan dalam Islam sungguh sangat menentukan kehidupan bermasyarakat, karena watak dan perangai masyarakat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai pemimpin-pemimpinnya. Rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya.Semua itu membenarkan kesimpulan bahwa pemimpin adalah teladan, sehingga teladan yang baik akan memberikan hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya.

Semoga cukup jelas, dan marilah kita asah akal serta kalbu kita untuk merenung serta menyimpulkanya. Allahumma amin.

Beji, 25/02/2011. oleh:Tasawuf Djawa.

@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: