= APAKAH MESTI ‘ALLAH’ NAMA-NYA =


ALLAH

Ketika saya masih kecil, masyarakat di lingkungan saya menyebut Tuhan itu Gusti Allah. Konsonan “ l ” yang rangkap itu cuma diucapkan satu “ l “ saja. Kata “ Alah “ ini saya dengar setiap hari. Karena semenjak kecil saya dibesarkan di lingkungan orang-orang yang taat,beragama Islam. Allah setiap saat disebut “ Alah “, toh tak pernah ada keributan. Mereka mengerti bahwa Alah adalah Allah. Tak ada orang saling menyalahkan karena sebutan itu.

Sering juga Alloh disebut “Pengeran”. Katanya, “Pengeran” berasal dari kata “pangengeran”, yaitu yang “dingengeri”, diabdi. Dia yang menjadi tujuan hamba. Sampai hari ini panggilan “Gusti Alah” atau “Pengeran” masih sering terdengar di desa-desa. Semuanya bisa menerima sebutan itu. Tak ada orang kafir-mengkafirkan, karena sebutan untuk Tuhan. Dan kalau itu jujur, tahulah kita bahwa Tuhan itu tidak berkebangsaan, tak bernegara dan tak berwarganegara.

Lima ratus tahun yang lalu Siti Jenar telah menyadari bahwa nama Tuhan itu hanya buatan manusia. Dia disebut sesuai dengan bahasa orang yang menyebut-Nya. Apapun sebutan yang diberikan orang kepadaNya, tentu itu sebutan yang terpuji. Kata “Tuhan”sendiri juga berarti “Tuan”. Kata “tuhan”berasal dari kata Jawa Kuno, yang artinya “tuan”, “majikan”, dan “yang termulia”. Dalam bahasa Inggris, “tuhan” adalah “lord”, yang artinya juga “tuan”. Itu semua adalah nama-nama terbaik bagi-Nya. Tuhan bukanlah orang yang perlu diidentifikasi. Aslinya, Tuhan itu tak punya nama. Untuk apa nama, wong, Dia itu Cuma satu dan paling nyata.

Nama diberikan agar kita tidak keliru menyebut sesuatu yang lebih dari satu. Jika kita punya 3 burung perkutut, tentu masing-masing kita beri nama. Agar kita tahu dengan tepat masing-masing burung itu. Matahari yang memancarkan sinarnya ke bumi ini Cuma satu. Apakah Dia disebut “Srengenge”, Surya, Sun(inggris), Syams(arab), atau lainya semua orang pasti menunjuk satu yang di angkasa yang bersinar sangat terang di siang hari itu. Perlukah bertengkar memperebutkan nama..? Bila masih perlu bertengkar tentang “nama”, berarti masih tidur, belum hidup.

“Lho, Allah itu kan nama Tuhan. Dia telah memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Muahammad bahwa nama-Nya “Allah”. Berarti Tuhan punya nama kan..? nama-Nya bukan pemberian manusia !!
Hehee…jangan marah dulu Anda. Pikir dulu. Ingat-ingat sejarah Arab pra-Islam. Beberapa orang Qureisy jahiliyah menamai anaknya ‘Abdullah’ bahkan ayahanda Rosululloh saw sendiri bernama Abdullah(hamba Alloh). Dedengkot munafik di Madina, bernama Abdullah bin Ubay. Ada seorang tokoh, entah nyata atau imajiner, yang dianggap memecah belah Islam. Ia dinyatakan berasal dari Yahudi yang masuk agama Islam. Namanya, Abdullah bin Saba’.

Wahyu Alquran di awal-awal turunnya juga tidak menyebut Allah. Pada wahyu-wahyu awal Tuhan disebut “Robb” atau “Ilah”. Robba-ribabah artinya menjadi tuan, mengendalikan, mempunyai komando atau otoritas. Arti lainya adalah memelihara, menumbuhkan, yang juga di terjemahkan “mendidik”. Sedangkan “Robb” sebagai kata benda pluralnya “arbab”, mempunyai makna “tuhan”, “Tuhan”, master, atau pemilik.

Kata “ilah” yang sudah kita terjemahkan “Tuhan”, atau “Dewa”(terjemahan yg benar adalah dewa), bentuk jamaknya adalah “alihah”. Dewi, bahasa Arabnya adalah “ilahah”(jamak, ilahat). Kata “ilah” berasal dari kata “alaha” atau “aliha” yang artinya menjadikan tuhan, mendewakan, atau menjadikan seseorang atau sesuatu sebagai tujuan. Dalam bahasa Arab, jika dia menjadi satu-satunya tujuan, atau tujuan yang paling pokok, maka kata itu menjadi “al-ilah”. Dan, dalam pengucapannya bunyi “ i “ luluh, tak terdengar, dan menjadi “allah”. Jadi, jelas sekali bahwa kata “Allah” adalah sebutan Yang Maha Esa, yang menjadi satu-satunya tujuan hidup manusia. Nahh, kalau sudah jelas nama itu datangnya dari manusia, mengapa kita mesti ribut..?? Tuhan sendiri minta di panggil apa saja, asal nama terbaik-Nya.

Tenang, kalem-kaleem….mari sama-sama membuka Al-Quran dan kita perhatikan makna ayat-ayat-Nya. Di surat Al A’Rof disebutkan,”DAN TUHAN MEMPUNYAI NAMA-NAMA BAIK(asmaul husna), MAKA MOHONLAH KEPADA-NYA DENGAN NAMA-NAMA BAIK-NYA”.
Dalam surat Al Isro’ perintahnya demikian: SERUHLAH atau AR RAHMAN. Dengan nama yang mana saja, karena bagi-Nya nama-nama yang baik itu.

Nahh….Alloh sebaiknya dipanggil dengan bahasa kita sendiri, yang meresap di dalam hati. Bagi orang Jawa ‘deles’, yang sungguh-sungguh Jawa, memohon Tuhan dengan ungkapan “duhh Gusti….” Jelas lebih meresap dalam hati dari pada “ya Tuhan….” atau “ya Allah…”.
Mengapa..?? Kerena ungkapan itu lahir dari bathin terdalam yang sejak kecil telah melekat dalam jiwanya. Islam harus disebarkan dengan damai. Bukan dengan cara menakut-nakuti, atau menggunakan kekuasaan Negara. Islam adalah kelembutan !! Islam adalah agama yang menarik, dan orang yang mencicipinya tetarik,”Laa ikroha fi al-din”,Tak ada paksaan dalam berislam.

‘Makna Kematian’,Syeh Siti Jenar oleh:Achmad Chodjim.

 

@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: