== MANUSIA HAKIKI ==


“Manusia yang hakiki adalah wujud hak, kemandirian, dan kodrat. Berdiri dengan sendinya. Sukma menjelma sebagai hamba. Hamba menjelma pada sukma. Nafas sirna menuju ketiadaan”(pupu II:2)

“Adanya Allah kerena zikir. Zikir membuat lenyap Dzat, Sifat, Asma dan Af’al Yang Mahatahu. Digulung menjadi ‘anataya’ dan rasa dalam diri. Dia itu saya! Timbul pikiran menjadi dzat yang mulia.”(pupuh II:3)

“Dalam jagad besar dan kecil, di manpun sama saja. Hanya manusia yang ada. Ki Pengging berani melahirkan tekad bahwa Allah yang dirasakan dalam zikir itu semu, keberadaan palsu. Keberadaan semacam ini karena nama.”(pupuh II:4)

“Manusia sejati itu, mempunyai sifat dua puluh. Dalam hal ini agama Budha dan Islam sudah campur. Satu wujud dua nama. Kesukaran tiada lagi. Ki Pengging sudah memahami(ajaran Syeh Siti Jenar).”(pupuh II:5)

“Menurut Syeh Siti Jenar, keadaan hidup yang berupa bumi, angkasa, samudra, dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan yang menusup di langit, maka keberadaan manusialah yang paling utama.”(pupuh II/Asmaradana: 8)

MANUSIA HAKIKI
Pertama yang perlu kita pahami adalah bumi, langit, dan seisinya merupakan ‘keadaan hidup’. Ini berbeda dengan pelajaran biologi yang membagi makhluk menjadi dua, makhluk hidup dan tak hidup. Bagi Syeh Siti Jenar, semua yang ada merupakan wujud kehidupan. Ia tumbuh dan berkembang dari dunia yang disebut oleh ilmuwan sebagai ‘benda tak hidup’. Jauh sebelum agama Islam dating, yaitu pada abad ke-6 sm, adalah Thales yang mengatakan bahwa air (cairan) merupakan pangkal dari segala yang ada. Dan di dalam Al-quran disebutkan bahwa ‘Arsy (singgasana, pemerintahan) Tuhan telah tegak pada zat ‘air’(al-ma’).

Apa yang disebut makhluk hidup, adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian. Itulah pandangan Syeh Siti Jenar ! Zat mati tak akan pernah menimbulkan kehidupan. Sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Bukanlah hidup namanya bila masih tersentuh kematian. Tuhan disebut Al-hayy, karena Dia Maha hidup dan eksis karena Diri-Nya sendiri. Nahh,kekuatan hidup-Nya yang mengalir dalam alam kematian ini muncul sebagai makhluk hidup. Karena itu, kita yang dilahirkan ini bukan untuk hidup,tetapi untuk mati.

Mati itu seperti tidur. Di dalam tidur ada mimpi. Hidup kita sekarang ini bagaikan tidur. Jadi,yang terjadi sekarang ini hanyalah bayang-bayang kehidupan. Realita yang ada sekarang ini masih maya. Karena masih terkena kematian. Kalau diamati secara seksama, realita sekarang ini ada tetapi maya. Ada,tetapi selalu bersifst baru! Wajah anda yang saya lihat saat ini, detik ini, sebenarnya bukan wajah sesaat atau sedetik yang lalu. Ada sel-sel kulit yang berganti.
Mata kita tak dapat mengamati dengan tepat, sehingga wajah tampak seolah-olah tetap. Setelah beberapa tahun tak bertemu, baru dapat mengetahui adanya perubahan.

Namanya saja bayang-bayang atau angan-angan dalam pikiran Dzat Wajibul Maulana, Zat Pelindung kita Yang Wajib Adanya. Bila manusia sudah hidup, maka ia tak akan tersentuh oleh kematian lagi. Dan,itu adanya bila manusia telah mengembalikan badan atau raga pinjamannya ini kepada Dia Yang Maha Ada(Alloh). Nafas sirna, lenyap, menuju ketiadaan.
Raga, badan ini, kembali menjadi tanah.

Tetapi, bukan setiap ‘orang yang mati’ dapat bangun sebagai pribadi yang hidup. Hanya orang yang dapat menabung kekuatannya di kala hidup di alam ini, yang mampu hidup setelah mati.

Jelas, Syeh Siti Jenar bertumpu realita, kenyataan. Jika hari ini kita tidak memiliki ‘simpanan’, maka besok kita tidak dapat beli apa-apa. Kita bisa membeli sesuatu tetapi hutang dulu. Dan,jika kita hutang,artinya kita wajib membayar hutang kita itu. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa orang yang mati syahid tidap bisa memasuki surge bila masih mempunyai hutang. Nahh, kalau kita tidak memiliki simpanan untuk bekal kehidupan setelah mati, mana mungkin kita dapat hidup ?? Lho, bukankah agama mengajarkan ‘amal sholeh’ ??

Perbuatan yang baik, adalah deposito, tabungan kekuatan untuk hidup setelah mati. Tetapi, Syeh Siti Jenar tidak mengartikan perbuatan baik itu dengan “mengerjakan ritual atau formalitas keagamaan”. Perbuatan baik adalah kemandirian. Manusia mandiri adalah manusia yang tidak tergantung kepada manusia lain. Juga tidak menjadi beban manusia lainya. Manusia hakiki adalah ’perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat’.

Banyak orang mengatakan bahwa kita harus mendahulukan kewajiban dari pada hak. Padahal, tak ada hak, manusia tidak dapat mewujudkan kehidupannya. Harus ada hak hidup lebih dulu !! Lihatlah benih yang ditanam di kebun. Ia kita beri hak untuk hidup lebih dulu. Kita rawat dan pelihara. Akhirnya, dengan kemandirian dan kodrat benih itu, ia tumbuh dengan subur dan memberikaan hasil yang baik.
Setiap manusia ada kodrat untuk hidup mandiri. Tetapi hak untuk mengekspresikan kemandirian dan kodrat hidupnya harus ada. Itulah hak hidup.

Agar kodrat dan kemandirian manusia di ala mini bisa terpenuhi, maka manusia berhak untuk memperoleh kehidupannya. Orang tua dan masyarakat memelihara bayi-bayi yang dilahirkan. Mereka membangun keamanan dan ketentraman bersama. Tak ada diskriminasi !! Orang tua dan masyarakat menyediakan pendidikan, lapangan kerja. Maka, lahirlah manusia-manusia baru yang memberikan buah kehidupannya bagi masyarakat tempat tumbuh hidupnya. Ini sebuah masyarakat yang di dambahkan Syeh Siti Jenar. Tetapi ide ini lahir sebelum zamannya. Justru di Melinium III ini manusia ingin hidup yang bebas dari kerangkeng kekuasaan Negara. Manusia ingin hidup mandiri.

Manusia hakiki adalah wujud dari haknya. Ia lahir bukan karena adanya hubungan seksual. Tetapi, ia deprogram untuk lahir.
Bukan karena desakan, tetapi karena haknya. Hak orang tuanya dan hak yang akan dilahirkannya. Ia tak perduli lewat jalur mana yang akan dilaluinya. Jalan alami karena aktifitas seksual, bayi tabung, atau cloning, itu semua sama baginya. Yang penting ia harus disiapkan untuk hidup mandiri, dan memenuhi kodratnya. Bukan hanya kodrat menurut jenis kelamin, tetapi juga kodrat untuk menempuh hidupnya sesuai dengan potensi atau bakatnya. Bukan hidup yang dikodratkan oleh lingkungannya.

Tatkala manusia sudah bisa hidup sesuai dengan hak, kemandirian dan kodratnya, maka ia dinamakan hidup harmonis dengan alam. Ia juga disebut sebagai SUKMA yang menjelma sebagai HAMBA.
Sekaligus, disebut juga sebagai HAMBA yang menjelma pada SUKMA. Dua nama tetapi sebenarnya satu realita. “Manunggaling Kawula Kelawan Gusti”,menyatunya HAMBA dengan TUHAN. Bukan persatuan jasmani, atau fisik. Karena Tuhan bukan berada di luar atau di dalam jasmani manusia. Tetapi persatuan realita! Bukankah di dalam Al-quran juga dinyatakan bahwa Alloh menciptakan manusia dan apa-apa yang dikerjakannya.

Manusia yang merupakan wujud hak, kemandirian dan kodrat adalah manusia LAHUT. Manusia yang telah melampaui alam NASUT(manusia biasa), TAREKAT(manusia ala malaikat), dan manusia JABANUT(manusia yg mempunyai pesona kekuatan). Ia belajar bukan untuk kenikmatan, tetapi untuk hidup. Ia belajar bukan untuk kepandaian, tetapi untuk hidup. Ia bekerja bukan mencari kekayaan, tetapi untuk hidup. Semua itu dilakukan bukan untuk ‘HIDUP’ sekarang ini, tetapi untuk hidup SEJATI ! Hidup sejati itu kapan..?? Yaitu: Hidup setelah kematian !!

Bukan setiap kematian dapat menumbuhkan hidup ! Tidak setiap biji yang ditanam dapat tumbuh. Hanya mati yang benar, yang dapat menjadi hidup. Mati yangbenar bukanlah mati yang kalah dari lingkungannya. Tetapi mati karena telah menemukan jalan hidup. Mati dengan cara menutup pintu-pintu hidup “tirta nirmaya”.
Mati dengan cara menggulung pintu rahasia kehidupan di dunia. Bukankah ada hadits yang terkenal di kalangan Sufi,”mutu qobla an tamutu”,rasakanlah mati sebelum kalian mengalami kematian”
Ada rahasia mati yang telah hilang pada zaman sekarang. Sehingga kita mengartikan ‘mati’ pada hadits tersebut, sebagai mati hawa nafsu. Agak mirip, tetapi tidak sama.
Selanjutnya, mengenai proses kematian ini akan dikupas dalam bab tersendiri. Yang jelas manusia hakiki adalah manusia yang telah memperoleh hak, kemandirian, dan kodratnya. Sehingga ia bisa hidup harmonis, dan mengetahui jalan hidupnya. Lalu, mengetahui pintu-pintu menuju kematiannya. Dengan kata lain, manusia hakiki adalah manusia yang mengetahui pintu-pintu menuju hidup sejati.

“Makna Kematian” Syeh Siti Jenar oleh,Achmad Chodjim.

@@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: