ARTI DAN HAKEKAT SABAR


Yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian islam adalah menahan diri dan membawanya kepada yang di tuntunkan oleh syara’ dan akal serta menghindarkanya dari apa yang dibenci oleh keduanya tersebut,dengan penuh ridho dan ikhlas serta berserah diri kepada Alloh. Jadi sabar ialah suatu kekuatan,daya positif yg mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban. Di samping itu sabar adalah suatu kekuatan daya preventif yg menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan.
Sedangkan menurut ilmu bahasa sabar berarti :
” ATTAJALLUDU WA’ADAMUSySyAKWAA MIN ALAMIL BALWAA ”
Artinya: Teguh hati tanpa mengeluh di timpa bencana.

Sabar itu membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana atau musibah. Jiwanya tidak berguncang. Hatinya tabah dan tahan menghadapi bencana itu,tidak berubah pendiriannya,tak ubahnya laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser atau hancur sedikitpun tatkala dihantam oleh ombak yang bergulung-gulung.

Lebih jauh Imam Ghozali menegaskan “Sabar ialah tetap tegaknya dorongan Agama berhadapan dengan dorongan Hawa Nafsu.
Dorongan Agama ialah:Hidayah Alloh kepada manusia untuk mengenal-Nya serta mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya kemaslahatan-kemaslahatan yg berkaitan dengan akibat-akibatnya. Bahkan Alloh akan meperteguh hati seseorang yg suka mengerjakan Sabar.
Seperti Hadits di bawah ini :
” MAN YASHBIR YUSHOBBIRHULLOHU WAMAA U’THIYA AHADUN ‘ATHOOAN KHOIRON WALAA AU SA’A MINASH SHOBRI ”
Artinya :”Siapa yg suka sabar,niscaya Alloh akan memperteguhkan hatinya,dan tiada seorangpun yg diberi karunia lebih baik dan lebih luas daripada sabar ”

Dalam Hadits lain lagi Rosululloh bersabdah :
” ASH SHABRU MI’WALUL MU’MINI WASH SHABRU AMIIRU JUNUUDIL MU’MINI ”
Artinya : ” Sifat sabar itu di umpamakan cangkul seorang mukmin,sifat sabar itu adalah panglima bala tentaranya seorang mukmin ”

BAHWASANYA IMAN TERBAGI MENJADI DUA,PERTAMA SABAR DAN KEDUA RASA BERSYUKUR.
Oleh karena itu seorang mukmin,itu sangat berhajad dan perlu kepada sifat sabar, terutama sekali ketika menghadapi bala’ dan musibah atau bencana. Kesusahan dan kesukaran dan segalah macam penganiayaan,yakni:apabila di timpa sesuatu musibah,ia tidak segerah putus asa, malah seharusnya ia bertenang dan lapang dada. Tidak akan merasa sempit dan bosan.Dan tidak pula mengadukan halnya itu kesana sini, Tetapi ia senantiasa menghadapi Alloh swt dengan penuh khusyu’ dan khudu’. Memohon dan merendah diri kepada-Nya,sambil berbaik sangkah terhadap-Nya. Sesudah itu hendaklah ia meyakini dirinya,bahwasanya segalah bala’ dan bencana yg kini ditimpahkan oleh Alloh ta’ala atas dirinya itu sebagai ujian yg di iringi dg berbagai-bagai kebaikan yang banyak. Seperti meningkatkan derajat, menggandakan pahala serta menebus dosa.
Sebagaimana yang telah di riwayatkan oleh beberapa hadits yang masyhur.
Di antaranya sabda Rosululloh saw :
” MAA YUSHIIBUL MU’MINA MIN NASHOBIN,WALAA WASHOBIN,WALAA HAMMIN HATTASY SYAUKATU YUSYAKKUHHA ILLA KAFFAROLLOHU BIHI MIN SAYYIAA TIHI ”
Artinya : “Tiada yang menimpa seorang mukmin dari bala’ bencana ataupun kesukaran,ataupun kerungsingan,sehingga duri yang menyucukinya,melainkan Alloh akan menebus dengannya segala dosa-dosanya “.

Seorang mukmin memerlukan sabar yang banyak dalam mengerjakan segalah macam ketaatan. Hendaklah ia tidak malas menunaikanya, hendaklah menyempurnakannya sebaimana yang diperintah Alloh dengan menghadirkan hati ketika menghadapi Alloh Ta’ala. Dengan penuh ikhlas,tidak riya’,tidak berpura-pura atau menampakan di mata orang ramai. Memang benar tabi’at diri selalu merasa malas dan berat untuk mengerjakan amal ibadah. Lantaran itulah ia harus memaksa diri untuk melawan segalah rintangan ini dengan perasaan sabar dan teguh hati.

Seorang mukmin senantiasa memerlukan kesabaran yang banyak dalam merntangi diri dari melakukan maksiat dan menjerumuskanya ke dalam larangan-larangan Alloh Ta’ala.Karena kerap nafsu mengajak kita untuk melakukan dosa mengangan-angankan maksiat. Maka ketika itu hendaklah menahanya dengan penuh kesabaran dari melakukan maksiat itu secara lahir. Serta mengangan-angankan atau menggambarkanya secara bathin.

Seorang mukmin memerlukan kesabaran yang banyak juga dalam mengekang diri untuk menempuh keinginan nafsu kepada perkara-perkara yang harus,yang biasanya diri kita amat menggemarinya.Seperti bermewah-mewah dengan kelezatan dan perhiasan dunia yang fana ini. Sebab menceburkan diri kepada kehendak-kehendak nafsu,dan mengikutkan keinginanya secara melampaui batas akan menjerumuskan manusia ke dalam perkara-perkara yang syubhat,dan seterusnya kepada yang haram pula.
Sesudah itu tidak mustahil lah manusia akan melahirkan cinta yang luar biasa terhadap harta benda dunia dan terlalu bersemangat dengannya. Sehingga akhirnya ia akan mengutamakan dunia lebih dari pada yang lainya.Dan mengecap kepada kemesraan yang penuh kepada dunia itu. Apabila ia sampai kepada keadaan serupa ini,mudahlah ia terlupakan akhirat dan lalailah ia dari usaha-usaha menujuh kepada-Nya. Demikianlah sekedar arti sabar.(Maftuh Ahnan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: