APA BEDANYA FIR’AUN DENGAN SITTI JENNAR


Syekh Sitti Jennar adalah wali yg aneh,Dia memiliki pemikiran dan kelakuan yg tidak lazim sebagaimana wali-wali lainya di Demak Bintoro,pemikiranya banyak dipengaruhi tokoh sufi dari Baghdad bersama Al-Hallaj,yakni ajaran “Wihdatul Wujud” atau Kesatuan Wujud. Al-Hallaj di anggap sesat oleh para ulama karena ajaranya. Dia dihukum mati oleh Kholifah atas desakan para ulama pada masa itu. Dan lakon serupa terjadi pula di tanah Jawa. Penerima hukuman itu adalah Syekh Sitti Jennar yg bergelar Syekh Jatimurti,sang penerus ajaran Al-Hallaj.

Kita mengenal ajaran Syekh Sitti Jennar ini dengan sebutan “Manunggaling Kawulo Gusti”,yakni bersatunya hamba dengan Tuhan.
Secara umum ajaran ini dipahami sebagai bentuk pengakuan diri seseorang menjadi Tuhan, layaknya pengakuan diri Raja Fir’aun dari Mesir sebagai Tuhan. Benarkah pengakuan diri sebagai Tuhan yg dilakukan Syekh Sitti Jenar sama dengan yg dilakukan Fir’aun?? jelas keduanya berbeda, bahkan bertolak belakang, Fir’aun adalah sosok manusia yg merasa memiliki sifat-sifat unggul dibandingkan manusia lainya, Ia menjadi merasa paling baik dan berlaku sombong, memaksa orang untuk tunduk pada semua perintahnya. Ia meminta dirinya diagungkan dan dijunjung tinggi lantaran rasa keunggulanya. Ia manusia diktaktor yg menganggap diri sebagai yg terbaik. Ini sama saja dengan menuhankan diri.

Sifat-sifat Fir’aun ini banyak merasuki hati manusia kebanyakan, bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Kita merasa lebih pintar lalu memandang rendah pada orang yg kita anggap bodoh. Padahal sejatinya ilmu yg kita miliki itu semata pemberian ALLOH Swt. Kita tidak memiliki apa-apa. Kita merasa kaya hingga memandang rendah orang yg lebih miskin.
Padahal hakikatnya kita tak punya apa-apa, harta yg kita punya hanya sekedar titipan dari-Nya. Kita merasa baik hingga memandang orang lain salah dan perlu kita nasehati. Padahal kita hanya menggunakan kacamata luar, tanpa memandang isi bathinnya.
Belum tentu kita lebih baik darinya. Kita juga merasa terhormat hingga menjadi marah manakala ada orang yg merendahkan kita. Padahal asalnya kita ini hina,lantaran diberi sedikit sifat Kemuliaan-Nya saja,maka kita dihargai. Tanpa kita sadari,kita sering mencuri sifat-sifat Tuhan,yg sebenarnya hanya Dia titipkan saja dalam diri kita. Kita sering mengaku “AKU”, padahal sejatinya hanya Tuhan saja yg berhak meng”AKU”. Tanpa kita sadari pula,sifat-sifat Fir’aun banyak berceceran dalam hati.

Sementara itu,Syekh Sitti Jennar adalah seorang muslim yg menekuni jalan Sufi. Dia menjalani laku spiritual demi mencapai Makrifat yang utuh. Dia ingin mengenal Tuhannya dengan pengenalan yang sempurna. Pendapat umum menyatakan bahwa Tuhan adalah Dzat paling Ghaib dari keghaiban-keghaiban yang ada. Sementara itu,’Alam Musyahadah’ atau Semesta Raya yg tampak nyata di hadapan kita ini adalah sesuatu yang paling tidak ghaib. Alam Semesta ini dapat dilihat, didengar, diraba dan dicium baunya, sementara Tuhan tak dapat di jamah dengan panca indra.
Inilah kenyataan bagi kebanyakan manusia.

Namun bagi para Sufi termasuk Syekh Sitti Jennar,pandangan seperti ini sebenarnya salah. Jika Alam Semesta ini nyata dan Tuhan adalah Ghaib,maka hal ini tidak masuk akal. Bukankah Tuhan adalah Pencipta dan Alam Semesta adalah ciptaan-Nya ?, Bukankah Pencipta itu sebenarnya yang benar-benar Nyata?, sejatinya,Tuhan lah yang sebenarnya Nyata,sementara alam semesta adalah ghaib atau tidak ada. Kalaupun dianggap ada,itu hanya sekedar anggapan.Ibarat bayangan di dalam cermin yang nyata kelihatan namun tidak ada wujudnya.

Hubungan antara manusia dengan Tuhan bukan sekedar hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan, bukan antara bapak dan anak,bukan antara Yang Satu dengan yang banyak. Antara Tuhan dan ciptaan-Nya sebenarnya adalah satu, ibarat laut dengan ombak yang keduanya adalah satu juga,yakni air. Kalaupun ada istilah Pencipta(Kholiq) dan ciptaan(Makhluk),maka ini sekedar bahasa simbol atau majaz saja.

Syekh Sitti Jennar memahami betul akan hal ini.Dia juga menjadi pelaku ajaran “Manunggaling Kawulo-Gusti”ini. Dalam istilah arab,Manunggal atau Penyatuan sama artinya dengan”Tauhid”. Jadi Tauhid sebenarnya adalah Penyatuan segalah sesuatu.
Bahwa alam semesta,termasuk manusia,sebenarnya adalah Pengejawantahan Diri Tuhan. Ibarat bayangan,Tuhanlah pelaku sejati, ibarat cermin,Tuhanlah Subyek di depan cerminnya, ibarat ombak,Tuhanlah Air yang sejatinya sumber dari ombak tersebut.

Syekh Sitti Jennar berhasil melepas sifat-sifat kemanusiaan-Nya dan Lebur memasuki Sifat-Sifat Tuhan. Dia merasa lenyap,dalam istilah Arabnya”Takhalli”. Dia merasa diri tidak ada dan tidak nyata. Adapun keberadaannya semata karena Ada-Nya(Alloh). Dia telah menghadirkan Tuhan dalam diri,istilah Arabnya adalah”Takhalli”. Pada akhirnya,Syekh Sitti Jennar merasakan bahwa keberadaan dirinya tiada lain hanyalah sebagai cermin dari keberadaan Tuhan. Tuhan adalah Pelaku Sejati bagi dirinya,istilah Arabnya adalah”Tajalli”. Maka Syekh Sitti Jennar berani melahirkan tutr dan sikap bahwa dirinya adalah Sang Maha Bhikku, Jatimurti juga namanya, lantaran dirinya sedang dalam kondisi Sakar atau Mabuk,yakni Mabuk dalam Tajalli Tuhan.

Inilah bedanya Syeh Sitti Jennar dengan Fir’aun. Keduanya menggunakan kata yang sama untuk menyebut keTuhanan dirinya, namun bertolak belakang dalam esensinya. Fir’aun jelas mewakili pribadi penentang Tuhan, sementara Syekh Sitti Jennar adalah mewakili manusia yang sangat dekat dengan Tuhan. Saking dekatnya hingga tak ada lagi jarak dengan-Nya(Alloh).
Itulah perbedaan Syekh Sitti Jennar dengan Fir’aun dalam mengenal Tuhan.
Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua dalam artian kita akan mengenal Tuhan.
Makrifat Syekh Sitti Jennar,by Agus Wahyudi.
@@@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: