= SEJARAH SAUDARA EMPAT DAN KELIMA PANCER =


Berdasarkan wejangan para leluhur kita, di ungkapkan tentang saudara empat dan kelima pancer sebagai berikut:

Ketika sang Ibu mengandung sampai melahirkan bayi,ia mengalami penderitaan yang bersifat demam, seperti ngilu seluruh tubuhnya atau dalam bahasa Jawa disebut EMAR, kecuali itu dirasakan pula seperti kejutan hati yang mengandung seribu perasaan tidak enak menjadi satu, sampai saat melahirkan bayi dari rahimnya. Menurut ungkapan nenek moyang kita,lahirnya bayi adalah bersama-sama saudara mudanya perempuan yang diberi nama/istilah MAR-MARTI keluar dari bagian dalam badan,sekitar dada. Bersamaan dengan waktu berpusatkan tenaga untuk mendorong keluarnya bayi, keluarlah terlebih dahulu lewat liang senggama sang Ibu.

AIR TUBA(kawah) yang kemudian disebut saudara muda bersifat Putih, di susul lahirnya si Jabang Bayi. Lalu menyusul ARI-ARI di belakangnya berwarna Kuning,kemudian di sebut Adi Ari-Ari.

Tahap berikutnya keluarlah DARAH,yang menjadi adik berwarna Merah atau disebut pula saudara ke Empat.
Pada waktu putus PUSAR/PUSAT berwarna Hitam,disebut saudara ke LiMA. Maka selesailah sudah lahirnya,saudara Empat ke Lima Pancer:
1. Mar-Marti
2. Kakak Kawah
3. Adi Ari-Ari
4. Darah
5. Pusat/Pusar
Inilah 4 saudara ke 5 pancer yang lahir sama sehari, juga sama-sama lewat gerbang yang satu dan yang sama-sama lahir tapi tidak lewat gerbang yang satu.

Empat saudara dan kelima pancer yang ada tetapi,selalu terlupakan seolah-olah tak pernah ada,yang diakui maupun tidak. Selalu mendampingi,menjaga,turut menunjang mengingatkan,menyelamatkan,membelah memberikan jasa-jasanya kepada kita setiap saat tidak memandang kapan dan dimana dan dalam situasi dan kondisi apapun dan bagaimanapun.
Yang juga memiliki perasaan, kemauan, keampuhan, pengaruh, arti, kelemahan dan kekuatan, sifat baik dan sifat buruk yang kadangkala membantu kadangkala mengganggu kehidupan kita. Merasa senang bila diperhatikan,di akui adanya dan dihargai jasa-jasanya dan bisa marah apabila diabaikan.

Nenek Moyang kita mempunyai tradisi untuk mengadakan selamatan yang bertujuan mengakui adanya dan menghargai arti dan jasa-jasanya, mengerti kehendak dan kebutuhannya, dengan istilah umum yang disebut:Memule atau Memetri.

Memule atau Memetri saudara Tua dan saudara Muda,terdiri dari 2 macam:
(1). Untuk saudara yang tidak keluar lewat Marga-hina(vagina) berupa :
Nasi Tumpeng, Pecel Ayam, Sayur Menir.
Daging: daging burung, daging ikan dari kolam, daging hewan ternak, sayur mayur, bunga rampai, sirih yg bagus, pisang yg bagus, minyak wangi dan air gula kelapa di campur santan kelapa, minyak sundul langit, tape dan kerupuk singkong yg di bakar.
Pengokohnya : Logam Timah.

(2). Memule dan Memetri saudara yang keluar bersama-sama satu hari lewat Marga-hina(vagina) berupa :
5 nasi tumpeng dituangkan dalam takir pontang, ikanya dari laut dan rawa-rawa, ikan sungai, gantal dg supit menjadi satu bungkus, bunga campaka 5 pasang,pada tiap-tiap potong di bubuhkan sepasang.
Pengokohnya : Logam Timah di tuangkan satu persatu.

Nenek Moyang kita dari jaman dahulu selalu yakin, percaya bahwa apabila setiap kali di adakan selamatan Memule dan Memetri dengan cara demikian.
Kepada saudara empat kelima pancer itu, kesemuanya akan selalu membantu keselamatan dan kesejahteraan hidup siang maupun malam. Tidak akan marah, masqul, kecewa,apabila di abaikan sehingga bisa mengganggu dan mempersulit jalan kehidupan kita.

Bagi kita yang hidup di alam modern ini yang penting adalah kita mengakui adanya, dan mengakui bahwa saudara empat dan lima pancer mempunyai arti dan daya ke ampuhan membantu kita dan dapat memberikan pengaruh buruk bagi hidup kita apabila tidak di perhatikan kehadirannya di sekeliling kita masing-masing.
Tidaklah mutlak bagi kita mengadakan selamatan seperti tersebut di atas. Apabila jika di ingat pada kehidupan dewasa ini,dimana ekonomi kita terasa tidak memungkinkan untuk mengeluarkan biaya untuk selamatan yang tentu tidak sedikit jumlahnya.
Cukuplah kiranya apabila kita tidak melupakan kehadirannya di sekeliling kita. Dengan menyebut meminta bantuannya,tidak perduli kapan,dimana dan dalam keadaan apapun juga.

Kita sambut dan menyebut saudara empat kelima pancer itu sewaktu kita sedang makan, minum, berjalan, duduk, hendak tidur, hendak bekerja dll, pendek kata kapanpun dan dimanapun mereka kita sebut minta bantuan dukungan supaya kita sehat sejahtera, mencapai tujuan atau dapat selesai dengan tugas pekerjaan yang sedang dan yang akan kita lakukan.

@@@@ @@@@@

3 Tanggapan to “= SEJARAH SAUDARA EMPAT DAN KELIMA PANCER =”

  1. boleh lah sekarang pa naim jadi penulis ooooooooooooiiiiiiiii

  2. boleh lah pa naim jadi penulis

  3. Trima kasih atas kunjunganya bang Mardang…
    saya bukanlah sebagai penulis,hanya sekedar apa yg
    saya tau dan perlu untuk di tuangkan disini sebagai wacana
    dan pengetahuan saja.
    Salam sejahtera kpd anda .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: